Latihan Bernyanyi, Interpretasi, Penjiwaan Lagu, Ritme dan Birama

Latihan Bernyanyi, Interpretasi, Penjiwaan Lagu, Ritme dan Birama


LATIHAN BERNYANYI UNISONO

Latihan-latihan pada artikel sebelumnya hanya merupakan latihan untuk menghasilkan suara yang merdu. Namun, bernyanyi yang baik tidak hanya bernyanyi dengan suara merdu saja. Bernyanyi yang baik, di samping harus dengan suara merdu, juga harus dengan pembawaan lagu yang benar pula. Coba bayangkan, betapa lucunya bila kita menyanyikan lagu "Gugur Bunga" dengan corak nyanyian yang gembira atau lagu "Maju Tak Gentar" dengan corak nyanyian yang lemah gemulai. Menyanyi yang baik tentu tidak demikian. Dalam kegiatan bernyanyi, lagu dapat dibawakan oleh satu orang atau lebih banyak lagi. Kelompok penyanyi yang membawakan lagu lebih dari 15 orang disebut paduan suara.

Saat bernyanyi dalam paduan suara, para penyanyi yang bernyanyi dalam satu suara disebut dengan menyanyi secara unisono. Satu suara dalam unisono adalah jenis suara yang menyanyikan nada sama. Lalu, apa lagi yang harus kita perhatikan agar kita dapat membawakan lagu dengan merdu sekaligus benar? Kita harus memiliki beberapa keterampilan, di antaranya sebagai berikut.
aKetepatan Membidik Nada (Pitch).
Memiliki suara yang merdu belum tentu mampu bernyanyi dengan indah. Masih dibutuhkan kemampuan membidik nada untuk dapat menyanyikan lagu dengan tepat sehingga nyanyian terdengar indah. Kemampuan membidik nada dengan tepat ini disebut pitch control. Ketidakmampuan membidik nada akan menyebabkan suara kita menjadi fals (sumbang). Agar kalian memmiliki kemampuan membidik nada dengan baik dan tepat, lakukanlah latihan pitching dengan benar. 
Untuk membidik nada yang berinterval dekat masih mudah. Akan tetapi, akan semakin sulit bila kita membidik nada dengan interval (jarak) yang jauh dan bervariasi. Berlatihlah dengan nada-nada berinterval seconde sampai mahir, kemudian untuk nada-nada berinterval terts, kemudian kwart, baru kwint, dan seterusnya.
 Ketepatan Membidik Nada
b.
Interpretasi Lagu. Kemampuan interpretasi lagu akan menghasilkan dua hal pokok dalam membawakan lagu, yaitu sebagai berikut.

1)kemampuan menafsirkan maksud dan tujuan lagu diciptakan oleh komponisnya. Sebagai contoh, lagu "Gugur Bunga" oleh komponisnya dimaksudkan dan ditujukan untuk mengungkapkan rasa sedih dan hormat atas gugurnya seorang pahlawan. Oleh karenanya, saat kita menyanyikan lagu itu juga harus mampu memunculkan rasa sedih dan hormat tersebut. Kalau perlu sampai pendengar pun ikut merasakan kesedihan dan kehormatan tersebut.

2)pengetahuan yang luas tentang musik sehingga dalam membawakan lagu sesuai dengan tuntutan jenis musik yang diinginkan oleh komponisnya. Sebagai contoh, lagu "Bengawan Solo" tidak akan tepat dinyanyikan dengan gaya rock karena segala unsur lagu tersebut, baik melodi, ritme, maupun harmoninya lebih cocok untuk jenis lagu langgam keroncong.


Penjiwaan Lagu 

Selain untuk menyampaikan pesan, lagu juga diciptakan untuk mengungkapkan rasa. Perasaan positif, seperti rasa syukur, gembira, semangat, rasa hormat, dan rasa sayang dapat diungkapkan dengan lagu. Sebaliknya, rasa sedih, marah, benci, atau kecewa juga dapat diungkapkan melalui lagu. Oleh karena itu, kamu harus dapat menangkap nilai rasa dalam lagu saat kamu nyanyikan. Kemampuan mengungkapkan nilai rasa saat bernyanyi itu disebut penjiwaan. Agar dapat menjiwai sebuah lagu, kamu harus dapat merasakan perasaan pencipta lagu tersebut. Caranya adalah melalui pemahaman terhadap lirik, ritme, tempo, dinamik, dan unsur lainnya dari sebuah lagu. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam usaha penjiwaan terhadap lagu adalah:
a.Ritme (irama)

Ritme berasal dari bahasa Yunani, ritmos, yang berarti mengalir. Dalam bahasa Indonesia, ritme setara pengertiannya dengan irama, yakni mengalirnya alunan musik. Dalam mengalirnya sebuah alunan musik, tentu mirip dengan aliran air sungai. Ada saat deras, ada saat tenang, bahkan berhenti. Ada saat naik, ada saat turun, dan seterusnya. Plato dan John Dewey mengatakan bahwa dalam ritme harus ada:

1)Pergerakan, yang mengalir dan selalu ada perubahan.

2)Keteraturan, yang di dalam lagu ditentukan oleh pemilihan birama
b.Birama

Birama terbentuk oleh pengelompokan ketukan menjadi unit-unit hitungan. Birama terdiri atas ketukan-ketukan bertekanan dan tak bertekanan. Ketukan bertekanan disebut tesis dan ketukan tak bertekanan disebut arsis. Ada beberapa macam birama yang kita kenal, yaitu:

1)Birama 2/4
Lagu yang tiap ruas biramanya terdiri dari not-not yang bernilai dua ketukan.
Contoh: Lagu "Ampar-Ampar Pisang"
 Contoh Birama 2/4
Keterangan:
ayunan tangan ke bawah untuk hitungan pertama dan ayunan ke atas untuk hitungan kedua.


Birama 3/4Lagu yang tiap ruas biramanya terdiri dari not-not yang bernilai 3 ketukan.
Contoh: "Burung Tantina"
 Contoh Birama 3/4
Keterangan:

Ayunan tangan ke bawah untuk hitungan pertama, ayunan ke samping untuk hitungan kedua, dan ayunan ke atas untuk hitungan ketiga.


Birama 4/4
Lagu yang tiap ruas biramanya terdiri dari not-not yang bernilai 4 ketukan.
Contoh: "Tanduk Majeng"
 Contoh Birama 4/4
Keterangan:
Ayunan tangan ke bawah untuk hitungan pertama, ayunan ke samping kiri untuk hitungan kedua, ayunan ke samping kanan untuk hitungan ketiga, dan ayunan ke atas untuk hitungan keempat.


Birama 6/8
Lagu yang tiap ruas biramanya terdiri dari not-not yang bernilai 6 ketukan untuk not-not 1/8-an.
Contoh: "Amelia"
 Contoh Birama 6/8
Keterangan:
Ayunan tangan ke bawah untuk hitungan pertama, ayunan ke samping kiri untuk hitungan kedua dan ketiga, ayunan ke samping kanan untuk hitungan keempat dan kelima, dan ayunan ke atas untuk hitungan keenam.
Pada umumnya, sebuah lagu hanya memiliki satu macam birama. Namun, ada pula yang memiliki lebih dari satu macam birama. Jika demikian, pada bagian yang diubah biramanya harus diberi tanda birama yang baru. Gerakan aba-aba konduktor di atas merupakan gerakan dasar. Konduktor boleh menambah gerakan-gerakan tertentu sebagai variasi dan untuk memberikan tanda-tanda dinamik, aksentuasi, dan lain-lain. Akan tetapi, variasi gerakan tersebut sebaiknya tidak menyimpang dari prinsip-prinsip di atas. 

Hal lain yang juga harus diketahui oleh penyanyi dan konduktor (dirigen) adalah bagaimana menentukan not yang merupakan hitungan pertama. Not yang merupakan hitungan pertama dalam sebuah birama adalah not yang tempatnya setelah garis birama. Contoh:
 Contoh Birama
Not-not yang dilingkari adalah not-not hitungan pertama. Maka, aba-aba birama untuk not-not tersebut berupa ayunan tangan ke bawah. Jika diiringi musik, pada not-not hitungan pertama tersebut jatuh bersamaan dengan bunyi bas.